Minggu, 05 Mei 2013

Gereja Bersejarah Surabaya - GPIB Bubutan 1925


Gereja GPIB Bubutan 1925

Menara Jam Tetap Kosong

 
Komposisi warga kota Surabaya yang multi etnis dan multi religi sejak dulu memberikan beberapa bangunan religi bersejarah. Warisan budaya religi yang ada di Kota Pahlawan pun tidak hanya kondang dengan kawasan Sunan Ampel dan Gereja Katholik Kepanjen. Salah satu warisan budaya yang mungkin tidak terlalu tersohor ialah Gereja GPIB di kawasan Bubutan Surabaya.

Gereja karya arsitek Albert Zimmerman pada tahun 1924 ini dibangun di Jl Bubutan No. 69 atau persisnya  di pojok jalan Bubutan dan jalan Pringadi. Pada awalnya, di depan gereja tersebut terdapat sungai dari arah selatan ke utara, tetapi sekarang sungai tersebut sudah tidak tampak lagi. Konon, sungai tersebut dulunya sering digunakan untuk mengisi air mobil pemadam kebakaran atau brandweer, dan juga sering digunakan untuk latihan pasukan pemadam kebakarane pemerintah Hindia Belanda.

Gereja ini semakin megah dengan menara jam yang menjulang. Albert Zimmerman yang dilahirkan pada tahun 1880 silam, memberi nama gereja ini ‘Protestantsche Kerk’ atau ‘Nederlandsch Hervormde Kerk’ bagi gereja ini. Pada tahun 1948, Gereja ini berganti nama menjadi GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat) ‘Immanuel’. Nama yang tetap dipergunakan hingga sampai saat ini.

Toh walaupun sudah diberi nama resmi, warga Surabaya lebih sering menyebutnya secara singkat dengan nama “Gereja Bubutan” sesuai dengan lokasi di mana Gereja itu berada yakni di kawasan daerah lawas sebagai cikal bakal kota Surabaya. Bubutan sendiri berada di Kelurahan Alun-Alun Contong, tidak jauh dari Tugu Pahlawan.

Konon, istilah Bubutan berasal dari kata Butotan. Butotan sendiri merupakan istilah untuk pintu gerbang yang tanpa sekat. Gerbang ini menghubungkan antara kampung Tumenggungan dengan Kraton di masa Adipati Surabaya itu, seorang tokoh legenda di ranah Surabaya zaman silam.

Selain nama yang tidak berubah, kondisi gedungpun juga tidak banyak berubah.  Hanya direnovasi dengan menambah 2 buah daun jendela besar dibagian atap serta ujung menara.  Hingga saat ini, tempat jam menara dibiarkan kosong. Sangat disayangkan bukan? jo

4 komentar:

  1. artikelnya menarik ya. :)
    cuma itu fotonya ukurannya agak dikecilin biar rapi. :)

    BalasHapus
  2. Terima kasih Ms Vera Astanti.. kritik dan judgment anda akan saya perhatikan... GBU

    BalasHapus
  3. Permisi kak itu bukan menara jam tapi menara untuk lonceng dan sekarang lonceng sudah terpasang kembali

    BalasHapus
  4. Pembabtisan mula-mula pada tahun berapa ? Dan penginjil Yohanes Emde pernah dibantis di gereja ini ?

    BalasHapus